Akademisi Sarankan Kandidat Pilkada Tebarkan Benih Kebaikan

0
Dekan dan Dosen FISIP Universitas Musamus Merauke saat dijumpai kemarin bincang - bincang mengenai perpolitikan di Merauke (2)

Dekan dan Dosen FISIP Universitas Musamus Merauke saat dijumpai kemarin bincang - bincang mengenai perpolitikan di Merauke. Foto: PSP/ERS

Merauke, PSP – Dekan Fakultas Ilmu Sosial daan Politik (FISIP) Universitas Musamus Dr. Fitriani,S.Kom.,M.Si menyarankan para kandidat bakal calon bupati dan wakil bupati pada Pilkada 2020 di Merauke sebaiknya menebarkan benih – benih kebaikan kepada masyarakat, khususnya kepada Orang Asli Papua (OAP) yang juga memiliki andil besar dalam penentu calon pemimpin di Kabupaten Merauke.

Menurut Fitriani, sekecil kebaikan yang dilakukan akan mampu mendongkrak partisipasi masyarakat dalam menentukan calon pemimpin dikemudian hari.

Dari sudut pandang akademisi, lanjut Fitriani, rekam jejak kandidat, sedianya akan berpengaruh kepada masyarakat OAP dan Non OAP. Namun, kebaikan yang ditebar calon bukan hanya pada saat ingin maju sebagai calon. Sebab hal itu akan menjadi tolak ukur masyarakat menentukan pilhan.

“Kalau memang ingin menginspirasikan OAP, sejauh mana bersangkutan berbuat baik atau mengedepankan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi, sebab masyarakat akan melihat itu. Contoh kecil, masyarakat datang meminta bantuan agar dibantu uang sepuluh ribu misalnya, nah kalau tidak diberikan di masyarakat OAP, itu akan diingat dan akan jadi alarm. Itu memang hal sepele, tapi penentu mereka memilih bersangkutan atau tidak,” ujar Fitriani saat diskusi mengenai keadaan perpolitikan di Merauke bersama dosen FISIP lainnya di ruang kerjanya, Selasa (21/7).

Dikatakan Fitriani, mengandalkan ketenaran nama, mempublikasikan di media – media maupun pembentangan spanduk tidak cukup baik untuk menarik hati masyarakat.

“Saran saya kepada kandidat harus menebar benih – benih kebaikan kepada masayarakat. Sebelum memutuskan menjadi calon pemimpin. Kalau hanya mengandalkan ketenaran nama, mengumbar di sosial media, membentangkan spanduk menurut saya itu hal biasa dan membuang-buang uang.

Sehingga kebaikan itu tertanam di hati masyarakat dan akhirnya memilih. Karena masyarakat sekarang meski polos tapi mereka sudah cerdas,” kata dia.

Dan kemudian, kata Fitriani, jika masyarakat sudah menentukan siapa yang menjadi pemimpin, sudah sebaiknya kandidat tersebut memiliki kedewasaan berpolitik. “Para calon tentunya memiliki rival, nah itu bukan musuh tetapi sumber daya untuk meningkatkan kemajuan daerah, tapi jadikan mereka sekutu, jangan sampai seperti yang terjadi di Merauke itu terjadi soal mengonta – ganti jabatan. Bagi kami kalau hanya satu tahun di masa pemerintahan tidak akan ada program yang terselesaikan, paling hanya satu atau dua kegiatan, nah, apakah itu bisa membuktikan kinerja tidak bisa,” tutur Fitriani. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *