Tak Ada Pemasukan, PSK Yobar Pusing ‘Dikejar’ Koperasi Harian
Suasana di Lokalisasi Yobar ditengah pendemi Virus Corona kemarin, Selasa (22/4).Foto: PSP/ERS
“Kami Bukan Tak Mau Bayar, Omongan Mereka Sering Tak Enak Didengar”
Merauke, PSP-Semenjak diberlakukan pembatasan sosial (Sosial Distancing) akibat wabah Covid-19 di wilayah Kabupaten Merauke, semua perkantoran, sekolah, tempat usaha diliburkan. Tak luput, usaha tempat hiburan malam (THM) dan lokalisasi, juga ditutup untuk umum alias para pengunjung. Hal itu berdampak secara ekonomis bagi para pekerjanya.
Di lokalisasi Yobar misalnya, para pekerja seks komersial (PSK) juga diwajibkan meliburkan diri dari pekerjaan dan tidak lagi menerima pengunjung alias tamu, sejak diberlakukan aturan pembatasan sosial. Setiap warga Yobar diwajibkan untuk menjaga jarak (social distancing). Keadaan ini berdampak pada penghasilan kerja mereka. Aktivitas pekerjaan terhenti, otomatis pendapatan harian mereka pun nihil.
Para PSK terpaksa harus memutar otak untuk membayar cicilan utang kredit koperasi harian di tengah pandemi Covid-19. Para penagih kredit dari koperasi harian tak mau tahu dengan kesulitan mereka. Setiap hari para penagih itu mendatangi para pekerja untuk menagih utang. Hal itu membuat mereka (PSK, red) kewalahan. Mereka ‘pusing tujuh keliling’ dikejar tagihan utang koperasi harian yang tak kenal ampun.
Ketua RT 19 Yobar, Mathias mengungkapkan, semenjak adanya edaran pemerintah daerah terkait pendemi Corona, para pekerja sudah tidak menerima tamu. Hal itu membuat, pendapatan para pekerja sama sekali tidak ada.
“Untuk aktivitas di sini kami tiadakan sementara. Tapi demikian saya juga tidak bisa halangi, tetap saya katakan sama mereka agar hati-hati, sebab pemasukan mereka hanya dari situ. Tapi dari pantauan saya, mereka juga membatasi diri (tidak menerima tamu),” ujar Mathias kepada Papua Selatan Pos ketika dijumpai, Rabu (22/4).
Mathias menyebutkan, sebanyak 70 orang saat ini pekerja yang tetap berada di lokalisasi Yobar. Para pekerja sudah mendapat perhatian dari pemerintah daerah berupa sembako untuk bertahan hidup. “Pemerintah sudah berikan bantuan, meski memang semua tidak mendapatkan. Wilayah ini juga sudah dilakukan penyemprotan,” ujar Mathias.
Yang jadi masalah, lanjut Mathias, para pekerja yang melakukan peminjaman uang kepada koprasi maupun kredit. Pihak penagih seolah kurang mengerti di tengah wabah Corona saat ini.
“Ada yang mengerti, ada juga yang tidak mengerti. Dengan bahasa yang kurang enak, anak- anak selalu dihadapkan. Seperti pihak koperasi harian, ya, kami harap mereka bisa menagih dengan baik lah. Kita semua mengalami hal yang sama di tengah pendemi ini,” ucapnya.
Sementara itu, salah seorang PSK yang enggan disebutkan namanya, mengaku, sering mendapatkan perlakukan ‘tak enak’ dari penagih harian di tengah wabah corona ini. “Kami juga bukan tidak mau bayar. Omongan mereka (penagih, red) juga sering tak enak didengar. Kalau dari instansi pembiayaan seperti lessing kami dapat keringan, saya sendiri sudah diringankan selama 2 bulan itu dari FIF,” ungkapnya.
Para pekerja sangat berharap, pihak penagih bisa mengerti dengan kondisi saat ini. “Mengerti sejenak lah, nunggu keadaan stabil, kita untuk makan aja susah bukan nggak mau bayar,” ungkapnya.
PSK lainnya juga mengaku hal yang sama. Mereka sering didatangi para penagih dari koperasi harian, yang tak kenal libur. “Gimana buat bayar koperasi, buat makan sehari-hari saja, kami kesulitan. Kerja kami pada diliburkan. Kami bukan tidak bisa bayar, nanti di saat stabil lagi kami juga pasti akan membayar,” bebernya. [ERS-RH]
