Stok Belum Maksimal, Masyarakat Kesulitan Mendapatkan Telur Lokal Merauke
Merauke, PSP – Belakangan ini masyarakat Merauke kesulitan mendapatkan telur lokal. Kondisi itu dipengaruhi oleh kebutuhan telur yang terus meningkat saat hari raya natal dan tahun baru. Sementara stok telur lokal jumlahnya belum maksimal pasca dilanda flu burung beberapa bulan lalu.
Ketua Himpunan Peternak Ayam Ras (Hipar) Merauke, Thomas Kimko mengemukakan bahwa sedianya saat ini stok telur lokal Merauke tidak terjadi kelangkaan. Namun, dari sisi permintaannya saja yang meningkat.
“Kalau hari raya Lebaran dan Natal pasti kan permintaan meningkat, sementara telur tidak bertambah. Kalau langka tidak, tapi kebutuhan yang meningkat,” ujarnya, melalui sambungan telepon, Senin (28/12/2020).
Menurut Thomas, setidaknya saat ini ayam lokal Merauke mampu memproduksi puluhan ribu telur dalam seharinya. “Sekarang ini kurang lebih satu hari bisa 700 rak atau 21.000 perharinya,” sebutnya.
Sebagai langkah antisipasi, Thomas menuturkan, pihaknya tidak mau mengambil resiko dengan mendatangkan telur dari luar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat merauke. Pasalnya, telur dari luar relatif kurang diminati, sehingga berpotensi akan tidak habis terjual.
“Untuk langkah atisipasi, kita mau datangkan banyak dari Surabaya itu terus terang teman-teman tidak mau ambil resiko. Karena yang pertama resiko kualitas telurnya tidak bagus, kemudian resiko kerugiannya punya potensi besar,” tambahnya.
Sementara itu, ia memastikan bahwa stok telur lokal Merauke akan kembali normal pada pertenggahn tahun depan. Menginggat, saat ini usia DOC baru berkisar 3 bulan.
“Sampai dengan saat ini telur Merauke masih belum stabil seperti sebelum terjadinya flu burung. Selain itu, karena DOC milik peternak usianya baru 3 bulan. maka saya pastikan telur Merauke, dibulan 5 atau 6 sudah normal kembali,” ujarnya.
Selain itu, Ia mengaku bahwa nantinya usai DOC ayam telah produktif menghasilakn telur. Kemungkinan harga telur akan dikisaran 90 ribu. Pasalnya, harga bibit DOC relatif lebih mahal dari sebelumnya.
“Pasti agak stabil, Cuma untuk harganya kita belum bisa normal seperti yang dulu. Sehingga harga tertinggi bisa mencapai 90 telur Merauke,” ungkapnya. Sementara itu, sesuai pantauan Papua Selatan Pos bahwa di beberapa kios tidak menjual telur merauke. Para pemilik kios mengatakan bahwa mereka tidak mendapatkan telur dari distributor. “ Saya tidak tahu kenapa telur lokal saat ini sulit didapat. Kondisi ini terjadi mulai awal desember. Untuk telur dari luar saya tidak menjualnya, karena kurang laku,” ujar salah satu pemilik kios di jalan kampung Timur.[WEND-NAL]
