Dari Dugaan Asam Lambung hingga Diagnosis Dispepsia, Pasien JKN Rasakan Pelayanan Prima

0

Yohanes Yufrianus Masar.

IMG_9392

MeraukeJamkesnews – Keluhan sakit perut sering kali dianggap sebagai masalah kesehatan ringan yang dapatsembuh dengan sendirinya. Namun, kondisi tersebut tidakselalu dapat dianggap sepele. 

Penanganan yang terlambat dapat menyebabkan keluhan semakin memburuk dan memerlukan perawatan yang lebih intensif. 

Pengalaman inilah yang dialami oleh Yohanis Yufrianus Masar (25) yang untuk pertama kalinya menjalani perawatan di Rumah Sakit Moerdani setelah di diagnosis mengalami sindrom dispepsia.

Yohanis mengaku awalnya tidak terlalu mengkhawatirkan rasa tidak nyaman yang dirasakan di bagian perut. Saat masih berada di rumah, keluhan yang muncul belum dirasakan terlalu berat sehingga ia menganggap kondisi tersebut hanya gangguan asamlambung biasa. Karena merasa belum membutuhkan penanganan medis, dirinya tidak segera memeriksakan dirike fasilitas kesehatan.

“Awalnya waktu masih di rumah saya tidak begitu merasakan sakit yang berat. Saya pikir hanya asam lambungbiasa sehingga belum sempat berobat. Namun, lama-kelamaan rasa sakitnya semakin terasa,” ungkapnya.

Melihat kondisi yang semakin memburuk, keluarga akhirnya membawa dirinya ke Rumah Sakit Moerdani untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Setelah menjalani pemeriksaan oleh dokter, Yohanis mendapatkan penjelasan bahwa keluhan yang dialaminya bukan sekadar asam lambung biasa. Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mendiagnosis dirinya mengalami sindrom dispepsia dan menyarankan untuk menjalani rawat inap agar mendapatkan penanganan yang optimal.

“Saat diperiksa dokter, ternyata saya didiagnosis mengalami dispepsia. Dokter menjelaskan kondisi saya dan menyarankan untuk rawat inap agar bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik,” katanya.

Sindrom dispepsia merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan gangguan pada saluran pencernaanbagian atas. Kondisi ini biasanya ditandai dengan nyeri ataurasa tidak nyaman di ulu hati, perut terasa penuh setelahmakan, mual, kembung, hingga sensasi terbakar pada lambung. Karena gejalanya sering menyerupai asam lambung, tidak sedikit masyarakat yang menganggap kondisi tersebut sebagai keluhan biasa sehingga menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

Keputusan untuk menjalani rawat inap sempat membuat Yohanes merasa cemas karena merupakan pengalaman pertamanya dirawat di Rumah Sakit Moerdani. Namun, kekhawatiran tersebut perlahan hilang setelah merasakan langsung pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit.

Menurutnya, pelayanan yang diterima sejak proses pendaftaran hingga selama menjalani perawatan berlangsung sangat baik. Para tenaga kesehatan dinilairamah, sigap, dan selalu memberikan penjelasan yang mudah dipahami terkait kondisi kesehatan maupun tindakan medis yang diberikan.

“Ini pertama kalinya saya dirawat inap di RS Moerdani. Awalnya saya cukup khawatir karena belum pernah dirawatdi sini. Tetapi setelah merasakan langsung pelayanannya, saya merasa sangat puas. Pelayanannya bagus sekali, petugasnya ramah dan selalu membantu ketika pasien membutuhkan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi para dokter dan tenaga kesehatan yang selalu memberikan informasi secara jelas mengenai perkembangan kondisinya. Menurutnya, komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan pasien memberikan rasa nyaman dan membuat pasien lebih tenang selama menjalani proses pengobatan.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagidirinya untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan dan tidak menunda pemeriksaan ketika merasakan gejala yang tidak biasa. Ia berharap masyarakat dapat lebih peduli terhadap kesehatan dan segera memanfaatkan layanan kesehatan ketika mengalami keluhan agar memperoleh diagnosis serta penanganan yang tepat.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Merauke, Dani Hamdani, mengatakan bahwa pengalaman Yohanis tersebutmenjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala kesehatan yang dirasakan. Menurutnya, pemeriksaan sejak dini dapat membantu mendeteksi kondisi kesehatan secara tepat sehingga penanganan dapatdilakukan lebih cepat dan optimal.

“Melalui Program JKN, peserta dapat mengakses pelayanan kesehatan sesuai prosedur yang berlaku, mulaidari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama hingga pelayanan lanjutan di rumah sakit apabila diperlukan berdasarkan indikasi medis. Kami mengimbau masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan kesehatan ketika mengalami keluhan, sehingga dapat memperoleh penanganan yang tepat sejakdini,” ujarnya.

Kisah Yohanis menjadi bukti bahwa gejala yang tampakringan tidak selalu dapat dianggap sepele. Pemeriksaan kesehatan secara dini dan pemanfaatan layanan kesehatanyang tersedia merupakan langkah penting untuk mencegah kondisi kesehatan berkembang menjadi lebih serius. Dengan dukungan Program JKN dan pelayanan kesehatan yang berkualitas, masyarakat dapat memperoleh akses layananyang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup. (TR/an).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *