Setia Dalam Panggilan, Tulus Dalam Pelayanan, Inilah Jejak Pengabdian Suster M. Oliva Silubun, PBHK

0

Mappi, PSP – Di tengah kesederhanaan hidup dan kuatnya iman keluarga Katolik, tumbuh seorang perempuan yang kelak memilih jalan hidup pengabdian. Ia adalah Suster M. Oliva Silubun, PBHK-seorang biarawati dari Kongregasi Putri Bunda Hati Kudus yang menjalani panggilannya dengan setia dan penuh ketulusan.Sejak tahun 2004, ia mulai menapaki jalan hidup membiara sebagai seorang aspiran. Proses panjang pembinaan iman dan kepribadian membentuknya menjadi pribadi yang tangguh, rendah hati, dan penuh dedikasi. Hingga akhirnya, pada tahun 2015, ia mengucapkan Profesi Kekal- sebuah komitmen hidup yang total kepada Tuhan dalam Kongregasi PBHK, berakar pada cinta kepada Hati Kudus Yesus.Perjalanan panggilan ini bukanlah jalan yang singkat. Kurang lebih 18 tahun ia menjalani hidup sebagai seorang suster, mengajar, membimbing, dan melayani. Dalam proses itu, ia dibentuk menjadi pribadi yang setia, tekun, rela berkorban, serta taat pada kehendak Tuhan melalui pimpinan kongregasi. Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar dalam setiap langkah pelayanannya. Pada tahun 2021, Suster Oliva menerima tugas perutusan sebagai Ketua Yayasan Hati Kudus Merauke. Sebuah tanggung jawab besar yang mencakup bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Tugas ini bukanlah hal yang ringan. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan, ia tetap melangkah dengan keyakinan dan semangat pelayanan.Selama kurang lebih lima tahun memimpin, ia terus berupaya melakukan pengembangan dan peningkatan mutu yayasan. Salah satu bentuk nyata dari komitmennya adalah melakukan kunjungan kerja ke berbagai wilayah pelayanan, termasuk sekolah-sekolah dan Klinik yang berada di Kabupaten Merauke, Mappi, dan Boven Digoel. Perjalanan yang tidak selalu mudah ini justru menjadi ruang perjumpaan yang memperkaya pengalaman dan memperdalam makna pelayanannya.Namun, kesibukan sebagai Ketua Yayasan tidak menjauhkan dirinya dari pelayanan pastoral. Suster Oliva tetap setia hadir di tengah umat-memimpin ibadah, mengunjungi komunitas, dan menyapa umat hingga ke kampung-kampung terpencil.Baginya, pelayanan kepada umat bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan untuk menemukan wajah Allah yang hidup dalam keseharian. Salah satu momen yang menggambarkan ketulusan pelayanannya terjadi pada 17 April 2026.Dalam kunjungan ke TK Bunda Hati Kudus Kepi untuk menghadiri serah terima kepala sekolah, ia juga diminta memimpin ibadah di Stasi Santo Petrus Ima, Paroki Hati Kudus Agham. Dalam suasana sederhana namun penuh iman, perjumpaan itu menjadi sumber kekuatan-bukan hanya bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri.Bagi Suster Oliva, setiap perjumpaan adalah rahmat. Dari umat, ia belajar tentang keteguhan iman dalam kesederhanaan. Dari pelayanan, ia menemukan kembali makna panggilan yang ia jalani. Ia hadir bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai saudari yang berjalan bersama, mendengarkan, dan menguatkan.Kesetiaan dalam hal-hal kecil, ketekunan dalam tugas, dan kerelaan untuk berkorban menjadi wajah nyata dari panggilannya. Ia menunjukkan bahwa menjadi pelayan Tuhan berarti siap hadir di mana pun dibutuhkan, dengan hati yang terbuka dan penuh kasih.Perjalanan ini tentu belum berakhir. Tantangan akan terus ada, tetapi dengan iman yang kokoh dan semangat pelayanan yang menyala, Suster Oliva melangkah dengan harapan. Ia percaya bahwa setiap karya yang dilakukan dengan tulus akan menjadi berkat bagi banyak orang.Di tengah dunia yang terus berubah, kisah hidupnya menjadi pengingat sederhana namun mendalam: bahwa pelayanan sejati tidak diukur dari jabatan atau posisi, melainkan dari hati yang setia. Hati yang mau hadir, mau mendengar, dan mau mengasihi tanpa batas.Dan dari tanah Papua, dalam langkah-langkah sederhana seorang suster, kita melihat bahwa kasih Tuhan tetap hidup-nyata, dekat, dan bekerja melalui mereka yang setia menjawab panggilan-Nya. [RADE-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *