Mimpi Anak Kimaam, Pendidikan dan Asrama yang Layak untuk Masa Depan
SMP Negeri 1 Kimaam
Merauke , PSP – Di antara desir angin rawa dan langkah kaki kecil di tanah becek, anak-anak dari kampung-kampung jauh berjalan membawa harapan. Mereka bukan sekadar menuntut ilmu, mereka juga bertahan hidup demi secercah masa depan.
Itulah potret nyata pendidikan di SMP Negeri 1 Kimaam, sekolah di wilayah Papua Selatan yang menjadi tempat berlabuh untuk anak-anak dari pelosok kampung. Jarak yang jauh dan kondisi ekonomi yang sulit tak menghalangi mereka untuk datang dan belajar, meski dengan segala keterbatasan.
“Banyak anak yang datang dari kampung-kampung untuk sekolah di sini. Tapi karena orangtua mereka tidak mampu secara ekonomi, mereka akhirnya tinggal seadanya, ada yang numpang di rumah keluarga, ada juga yang tinggal di bevak, semacam gubuk sementara,” ujar Slamet Irianto, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan dan Sarana Prasarana, saat ditemui pada Minggu (27/07).
Slamet menuturkan, ketimpangan akses pendidikan antara jenjang SD dan SMP ke atas menjadi tantangan tersendiri. “Kalau SD mungkin sudah ada di kampung-kampung, tapi untuk SMP, SMA, atau SMK belum tentu tersedia. Makanya banyak anak yang datang jauh-jauh,” katanya.
Namun, di balik semangat mereka, tersembunyi berbagai kisah pilu. Ada siswa yang terpaksa izin pulang dari sekolah karena belum makan sejak hari sebelumnya. “Kalau kita tidak kasih izin, kita sendiri yang tidak tega. Mereka bilang ‘Pak, belum makan,’ dan setelah ditelusuri memang dari kemarin belum makan,” tutur Slamet.
Ia pun mengakui, kondisi ini membuat guru dan sekolah menjadi dilema. Di satu sisi ingin menerapkan aturan, di sisi lain kondisi sosial-ekonomi para siswa membuat aturan itu sulit dijalankan. “Selama ini kita terlalu banyak toleransi. Kita ingin menerapkan aturan yang benar, tapi karena kenyataannya seperti itu, jadi kita tidak bisa.”
Bahkan ketika ada siswa yang ingin pulang ke kampungnya, perjalanan yang ditempuh tidak bisa dihitung dalam jam, melainkan dari “matahari terbit sampai matahari terbenam”. Jalan kaki berjam-jam menjadi rutinitas mereka demi menuntut ilmu.
“Kalau anak izin hari Kamis atau Jumat, belum tentu Senin sudah bisa sekolah lagi, karena belum tentu orangtua bisa siapkan bekal atau makanan untuk sekolah,” tambahnya.
Melihat kondisi itu, Slamet menyuarakan harapannya untuk anak-anak dari kampung-kampung jauh itu. Bukan sekadar bangunan tempat tinggal, tapi sebuah lingkungan yang dikelola dengan baik, manusiawi, dan terintegrasi dengan dunia pendidikan.
“Pola asrama bisa menjadi salah satu solusi. Tapi jangan juga dikelola oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Harus ada kerja sama yang jelas antara pengelola asrama dan satuan pendidikan SMP, SMA, dan SMK supaya benar-benar mendukung anak-anak ini,” tegas Slamet.
Ia menekankan, kualitas pendidikan tidak akan tumbuh hanya dengan bangunan dan kurikulum semata. Lingkungan hidup siswa, termasuk akses terhadap makanan, tempat tinggal yang aman, dan pendampingan juga bagian dari ekosistem pendidikan yang tidak bisa diabaikan.
“Pendidikan di sini kalau boleh saya ibaratkan sedang opname. Sakit, tapi belum mati. Masih bertahan hidup. Tapi kalau kita tidak segera bertindak, sampai kapan kita akan seperti ini?” katanya penuh keprihatinan.
Slamet berharap pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, serta pihak-pihak terkait dapat melihat langsung kondisi riil di lapangan. Sebab, pendidikan di daerah seperti Kimaam bukan hanya tentang angka partisipasi sekolah, tetapi tentang perjuangan hidup dan masa depan anak-anak yang selama ini mungkin tidak terdengar suaranya.
“Kalau kita tidak bisa bantu banyak, setidaknya jangan kita tambah beban mereka. Tapi alangkah baiknya kalau kita bisa berbuat lebih, karena mereka ini generasi yang sama berharganya, hanya saja lahir di tempat yang jauh dari sorotan,” tutupnya. SMP Negeri 1 Kimaam berada di Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, wilayah dengan akses transportasi dan infrastruktur terbatas. Siswa-siswanya banyak berasal dari kampung-kampung terpencil yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau menggunakan perahu kecil.[CR1-NAL]
