BPOM Tidak Temukan Bahan Berbahaya di Jajanan Buka Puasa

0
Pengambilan sampel oleh BPOM di jajanan berbuka puasa di Jalan Raya Mandala.

Pengambilan sampel oleh BPOM di jajanan berbuka puasa di Jalan Raya Mandala. Foto: PSP/ERS

Merauke, PSP – Loka Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Merauke tidak menemukan bahan -bahan berbahaya pada produk olahan makanan jajanan berbuka puasa.

Pemeriksaan pengawasan produk olahan makanan ini sedianya sudah dilakukan sejak seminggu sebelum puasa.

“Ada 5 tahap kami lakukan pemeriksaan untuk takjil,  di tiga tahap pertama kurang lebih 70 sampel kami tidak temukan bahan berbahaya pada produk olahan baik seperti rodamin, borax , formalin dan metanil yellow” ujar Kepala Loka BPOM Merauke Agustince Werimon kepada wartawan di sela – sela pemeriksaan, kemarin.

Dikatakan Agustince, program insentifikasi pengawasan pangan ini adalah program BPOM dalam rangka melindungi kesehatan masyarakat terhadap pangan olahan yang beresiko terhadap kesehatan di bulan ramadhan.

“Program ini memang rutin setiap tahun kami laksanakan baik di bulan ramadhan maupun natal,” ungkapnya

Selain itu, kata dia, BPOM juga tengah melakukan insentifikasi ke sarana – sarana distributor.

Pemeriksaan sampel takjil oleh petugas BPOM kemarin. Foto: PSP/ERS

“6 tahap yang terakhir jadwalnya minggu depan, tahap pertama sudah kami lakukan seminggu sebelum puasa, sudah melaksanakan pengawasan di distribusi dan retail pangan. Target kami produk pangan olahan yang tanpa ijin edar, kemudian rusak,” kata dia.

Ia menyebutkan, bahwa beberapa distrik di fokuskan intensifikasi sarana – sarana tersebut. Namun, tidak ditemui banyak pelaku usaha yang melakukan penyimpangan.

“Tahun ini kami memang fokus untuk beberapa distrik yang tahun kemarin tidak bisa kami jangkau.

Seperti Ulilin, Jagebob, Semangga Tanah Miring dan Kumbe , besok tahap terakhir di Merauke.

Dibanding dengan tahun lalu, sekarang konsumen dan pelaku usaha mulai sadar , jadi untuk temuan sangat jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya

2019 hampir 90 persen kami temukan pangan kadaluarsa untuk tahun ini 25 persen dari sarana yang kami awasi,” tuturnya.

Menurutnya, para pelaku usaha sudah terbilang sadar bahwa menjual dan memperdagangkan produk rusak dan kadalaurasa ada sangsi yang menunggu. “Ini sudah sangat sedikit, pelaku usaha sudah terbilang sadar, karena masyarakat juga sudah mulai kritis,c tandasnya. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *