Robert: Negara yang Mau Maju Harus Memandang Perbatasan Sebagai Halaman Depan Negara
Rapat Koordinasi Pengelolaan Perbatasan Tahun 2021. Foto: PSP/WEND
Merauke, PSP – Deputi I Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara, Badan Nasional Pengelola Perbatasan, Dr. Robert Simbolon, M.Pa, menegaskan tentang paradigma baru kontelasi kawasan negara-negara di dunia. Menurutnya, negara yang ingin maju, saat ini harus memiliki cara pandang bahwa perbatasan merupakan halaman dan garis terdepan negara.
Berangkat dari paradigma ini, Imbuh Robert, perbatasan sebagai titik terdepan sebuah negara, harus diprioritaskan dalam pembangunan diberbagai sektor, baik ekonomi, maupun budaya. Sehingga nantinya harga diri sebuah negara akan semakin baik.
“Kita harus mengubah cara pandang kita terhadap perbatasan negara. Kita tidak pernah lagi membelakangi negara tetangga, tetapi kita berhadap-hadapan dengan negara tetangga. Hanya negara yang tidak ingin maju yang memainkannya kedalam. Negara yang inggin maju harus memandangnya keluar, karena kita berhadap-hadapan. Maka sejatinya perbatasan dunia tidak lagi menjadi halaman belakang, tetapi menjadi halaman depan negara atau beranda negara,” terangnya dalam dalam rapat koordinasi pengelolaan perbatasan tahun 2021, di Kantor sekretariat Kabupaten Merauke, Senin (29/3/2021).
Lebih lanjut, Robert mengungkapkan bahwa Sota, sebagai salah satu halaman depan Indonesia, harus dikelola dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga bisa merepresentasikan secara utuh wajah Indonesia sebagai sebuah negara besar.
“Bagaimana kita akan mengembangkan Sota dan kawasannya sebagai tempat warga masyarakat kita menikmati keindahan negara ini di Merauke. Sekaligus menjadi wajah negara kita di Merauke,” harapnya.
Namun demikian, Robert menilai bahwa paradigma perbatasan sebagai teras depan sebuah negara nampaknya belum disambut secara baik oleh Papua New Guinea. Dimana PNG belum melakukan trobosan pembangunan diperbatasan Sota, bersamaan dengan apa yang telah Indonesia lakukan dengan mempercantik PLBN Sota. “Sota sudah disepakati menjadi titik yang menjadi counter parking sejak tahun 80 an. Makanya kita berani membangun PLBN Sota yang begitu bagus. Tapi sampai hari ini pihak seberang belum juga bergerak. Nah ini, bersepakatnya mudah, tetapi untuk bergerak bersama yang butuh waktu memang. Ini hal-hal yang sering kita harapi dalam tataran pratktis,” pungkasnya. [WEND-NAL]
