Bupati Romanus: OPD Harus Buat Progam yang Sentuh Langsung Masyarakat

0
Bupati Romanus saat menyampaikan arahan dalam pembukaan Musrenbang (3)

Bupati Romanus saat menyampaikan arahan dalam pembukaan Musrenbang. Fot9o: PSP/WEND

Merauke, PSP – Bupati Kabupaten Merauke, Romanus Mbaraka menyoroti terus menurunnya Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (APBD) Merauke terhitung mulai 2018 hingga 2021 ini. Hal ini tentu saja berdampak pada tidak maksimalnya program pembangunan untuk masyarakat.

Penegasan ini sebagaimana disampaikan Bupati dalam pembukaan Murenbang tingkat Distrik, di Aula kantor Bapeda, Rabu (17/3/2021).

“2016 saya kasih tinggal uang kita itu 2,4 triliun. Pada 2018 uang kita jadi Rp 2,2 Triliun, 2019 jadi 2,1 Triliun, 2020 jadi 1,9 Triliun. Kalau kita lihat kurfa, kita itu menuju kematian. Karena apa, cost belanja semakin tinggi dan mahal. Sementara pendapatan kita semakin menurun. Harusnya dengan politik, kita bisa dapatkan peluang untuk dapat uang banyak,” tutur Bupati.

Selain itu, Bupati Romanus mengkritisi tingginya biaya aparatur Pemda Merauke. Sementara biaya pembangunan bagi masyarakat malah begitu rendah. Ia menilai program pemerintah daerah sangat tidak sehat.

“Jadi kamu pikir-pikir, uang untuk pembangunan ini tidak ada. Yang sehat 70 persen untuk pembangunan, 30 persennya untuk belanja aparatur. Tapi ini terbalik, 70 persen belanja aparatur 30 persen untuk rakyat, itu tidak sehat,” ujarnya.

Atas pertimbangan semakin mengurangnya APBD tersebut diatas, ia meminta agar kepala-kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), distrik, dan Lurah menyusun anggaran dengan memprioritaskan program-program yang paling penting dan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Ini kamu harus lihat uang dulu to, baru program. Dari pada kamu bicara banyak, mau usul ini, usul itu, sementara kekuatan belanja kita tidak ada. Masing-masing lurah sekarang siapkan usulan infrastrutur kota, mulai dari trek sampah, dan sanitasi. Kita akan benahi semua,” tegasnya.

Sebagai bahan inspirasi dalam menyusun program, Romanus menyinggung soal teori John Friedmen yang memandang bahwa negara adalah sarana untuk aksi sosial. Perencanaan dipandang sebagai upaya ilmiah untuk menciptakan usaha-usaha pemerintah yang efektif.  “Coba kamu lihat teori perencanaan john friedmen, ini satu kolam, satu desa, satu distrik, kita bikin satu program. Efeknya sampai kemana-mana, kesemua orang. Jadi kamu pilih batu yang besar atau program yang baik dan bisa bikin gelombang sampai kemana-mana,” pungkasnya. [WEND-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *