Setiap Bulan Berton-ton Komoditas Merauke Keluar Lewat Perbatasan

0
Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Papua Selatan saat menyampaikan keterangan pers di Merauke

Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Papua Selatan saat menyampaikan keterangan pers di Merauke

Berantin : Tapi tidak tercatat sebagai ekspor

Merauke, PSP – Potensi ekspor komoditas pertanian, perikanan, dan kehutanan dari Papua Selatan dinilai sangat besar, namun hingga kini sebagian besar belum tercatat sebagai ekspor resmi.

Hal itu disampaikan Ketua Tim Karantina Tumbuhan Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Papua Selatan, Abdul Rasyid, saat ditemui di Merauke.

Rasyid menyebutkan sejumlah komoditas yang keluar melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sota, seperti beras, gambir, kopi, dan kebutuhan pokok lainnya, sebenarnya memiliki nilai ekonomi signifikan, namun masih diperlakukan sebagai lalu lintas pelintas batas, bukan ekspor. “Potensi ekspor memang sangat besar. Komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan saat ini belum tergambarkan di list dokumen karantina kami,” ujarnya.

Menurutnya, pergerakan barang di perbatasan RI–PNG bersifat khusus karena adanya hubungan kekerabatan masyarakat di kedua sisi perbatasan.

Hal itu membuat transaksi lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat sekitar perbatasan, bukan ekspor komersial.

“Setiap hari beras keluar dari Merauke lewat perbatasan. Komoditas yang keluar bisa mencapai 5 ton per bulan. Beras itu nomor satu terbesar karena kebutuhan pangan warga PNG sebagian besar dipasok dari Merauke. Tetapi ini belum bisa dipublikasi sebagai kegiatan ekspor,” jelasnya.

Rasyid menambahkan, pemerintah Papua Nugini perlu menyiapkan dokumen administrasi CIQ (Customs, Immigration, Quarantine) agar pertukaran data antara Indonesia dan PNG menjadi jelas sehingga distribusi barang dapat dimonitor dan tercatat resmi. “Ini sedianya peluang bagi pemerintah daerah. Lewat regulasi, ini bisa dicatat sebagai ekspor,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Papua Selatan, Ferdi, S.P., M.Si, mengatakan ekspor dari Merauke sejauh ini masih berskala kecil dan didominasi barang-barang yang melintas melalui PLBN Sota dan Yetetkun. Sementara ekspor langsung berskala besar tercatat dari Merauke ke negara tujuan belum terjadi.

Menurut Ferdi, sejumlah komoditas bernilai tinggi seperti gaharu, ikan, gelembung ikan, dan ikan asin memang keluar dari Merauke, namun hanya tercatat sebagai pengiriman domestik dengan tujuan Jakarta. Di ibu kota, komoditas tersebut kemudian diekspor oleh perusahaan pemegang izin. “Dokumennya tujuan ke Jakarta, tapi sampai Jakarta diekspor keluar. Pengepul dan izin ekspor gaharu itu dimiliki perusahaan di Jakarta, dan permintaan gaharu dari sana sangat banyak,” jelasnya. [ERS-NAL]  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *