Sekolah di Pedalaman Berharap Program MBG Cepat Terealisasi

0
SMP Negeri 1 Kimaam

SMP Negeri 1 Kimaam

Merauke, PSP – Dari pedalaman Merauke, di SMP Negeri 1 Kimaam, lebih dari 98% siswanya adalah anak-anak Papua yang datang dari kampung-kampung terpencil. Demi mengenyam pendidikan, mereka harus hidup jauh dari orangtua, menumpang di rumah kerabat, bahkan tinggal di bevak (gubuk sementara). Ironisnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang untuk memperbaiki gizi anak-anak Indonesia, belum juga mereka rasakan.

 “Jangankan bicara soal gizi, makan saja belum tentu. Bagaimana kita mau bicara soal gizi kalau urusan makan harian saja belum aman,” kata Slamet Irianto, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan dan Sarana Prasarana, saat ditemui di perumahan guru, Minggu (27/07).

Menurut Slamet, para siswa kerap datang ke sekolah tanpa sarapan. Ketika ditanya siapa yang sudah makan pagi, hanya segelintir tangan yang terangkat.

“Banyak dari mereka tinggal jauh dari orangtua. Kebanyakan keluarga di sini hidup dari bertani dan berburu. Jadi kalau dapat hasil, ya makan. Kalau tidak, ya lapar,” jelasnya.

Situasi ini berdampak langsung pada semangat belajar siswa. Anak-anak yang lapar sulit berkonsentrasi, bahkan sering kali lesu saat mengikuti pelajaran. Karena itu, pihak sekolah sangat menyambut baik rencana program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat.

 “Beberapa minggu lalu, kepala sekolah sudah minta kami kumpulkan data siswa untuk persiapan program MBG ini. Kami harap ini cepat terealisasi,” ungkap Slamet.

Ia menekankan program MBG bukan hanya soal memberi makanan, tapi juga tentang memberi kesempatan belajar yang lebih adil.

“Kalau anak-anak sudah tidak mikir lagi nanti makan apa, mereka bisa lebih fokus belajar. Kita orang dewasa saja kalau belum makan susah fokus, apalagi anak-anak,” tambahnya.

Di tengah keterbatasan, para guru dan staf sekolah tetap berusaha memberikan yang terbaik. Mereka berharap program MBG benar-benar menyentuh wilayah-wilayah seperti Kimaam daerah yang selama ini jauh dari pusat perhatian. “Kami tidak butuh yang mewah, yang penting anak-anak bisa makan layak setiap hari. Itu saja sudah sangat berarti untuk mereka bisa terus sekolah dan bermimpi,” pungkasnya.[CR1-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *