Mewujudkan Internet Untuk Semua

0
foto rafly

Oleh : Rafly Parenta Bano, M.E.K.K (Statistisi Ahli Muda, Badan Pusat Statistik)

Saya ingin bertanya untuk kita semua. Bagaimana kita beradaptasi selama pandemi COVID-19 jika kita tidak memiliki akses ke internet?

Mari kita flashback sekilas ke Maret 2020. Kita tahu, sebelum Maret 2020, kita terbiasa dengan rutinitas kita, bekerja seperti biasanya sehari-hari. Dan kemudian kita dikejutkan dengan satu varian virus dari Wuhan, China. Boom, pada Maret 202, kita berhadapan langsung dengan pandemi yang tak seorang pun tahu apa yang harus dilakukan. Pemerintah langsung bertindak. Jangan ke gereja, jangan ke masjid, jangan ke restoran, jangan keluar rumah, jangan naik kendaraan umum, jangan menjenguk orang tua dan keluarga, jangan pergi ke sekolah dan jangan pergi bekerja. Itu adalah rentetan “larangan” dari segala arah yang memungkinkan, untuk menghentikan laju penyebaran virus.

Tapi kemudian kita beradaptasi. Kita mulai menerima, dan perlahan-lahan kita mulai mengubah apa yang kita lakukan dari tatap muka ke online. Kita mulai mengandalkan kekuatan internet untuk melakukan banyak hal: berbelanja dan memesan makanan secara online, berbicara dengan teman atau bahkan belajar cara merawat tanaman itu secara online. Kita menggunakan internet untuk beribadah, menggunakannya untuk berolahraga, bahkan berkonsultasi dengan tim medis. Organisasi dan instansi juga beralih ke kerja jarak jauh. Beberapa sekolah akhirnya memberikan kelas online. Meskipun memang, selama belajar daring ini, anak-anak mengenakan kemeja sekolah dan dasi sekolah dengan bawahan piyama. Pun demikian dengan orang tua yang melakukan hal yang sama dalam meeting via Zoom.

Sayangnya, cerita di atas ternyata tidak sama untuk semua orang yang tidak pernah mengakses internet. Taruhlah di Provinsi Papua. Beberapa kabupaten di Provinsi Papua akses internetnya masih sangat rendah. Bahkan ada 9 kabupaten yang 99% lebih penduduknya tidak pernah mengakses internet. Kabupaten Paniai (99,53%), Puncak Jaya (99,65%), Nduga (99,12%), Lanny Jaya (99,51%), Mamberamo Tengah (99,95%), Yalimo (99,36%), Dogiyai (99,15%), Intan Jaya (99,57%) dan Deiyai (99,98%). Sekali lagi, mereka tidak memiliki akses ke internet. Maka dampaknya, semakin lama pandemi berlangsung, maka kemungkinan semakin jauh dan semakin jauh mimpi anak-anak di sana menjadi seorang guru, dokter atau pilot, dan di sisi yang lain semakin tinggi peluang anak-anak perempuan menjadi ibu remaja atau menikah di usia dini.

Kita menggunakan internet untuk banyak hal. Bahkan hanya berbicara dengan orang tua kita melalui video call. Dan kita melakukannya tanpa pernah memikirkan mereka yang tidak bisa mengakses internet. Pernahkah terlintas di benak kita bagaimana mereka yang tidak bisa mengakses internet, menghadapinya?

Kita hidup di era digital di mana akses ke internet mutlak harus dimiliki. Internet memberikan kemudahan bagi kita terlibat dalam percakapan demokratis. Kita menjadi punya suara di ruang publik yang sebelumnya hanya milik segelintir orang. Sekarang sebagian besar orang dapat berbicara tentang isu-isu yang mempengaruhi mereka.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), lebih dari 117 juta orang (45%) di Indonesia tidak memiliki akses ke internet. Kita telah melihat bahwa hanya dalam beberapa tahun terakhir, kekuatan internet mampu menghubungkan milyaran orang dari seluruh dunia. Jadi itulah sebabnya mengapa kita perlu sangat prihatin kepada sekitar 117 juta orang Indonesia. Karena seperti yang saya uraikan, internet memberikan kekuatan kepada masyarakat untuk berkontribusi pada ekonomi, pada politik dan masalah sosial.

Taruhlah dalam konteks kontribusi pada ekonomi. Hingga kini boleh dikatakan bahwa Indonesia masih bergantung pada sektor pertanian. Karena sekitar 28,33 persen penduduk Indonesia mengandalkan pertanian untuk mata pencaharian mereka. Itu menurut hasil Sakernas Agustus 2021. Namun, ketika kita melihat angkanya, pertanian hanya menyumbang rata-rata 10,19 persen per tahun terhadap PDB Indonesia selama 12 tahun terakhir. Jadi 28 persen penduduk mengandalkan sesuatu yang menyumbang 10 persen terhadap PDB. Sebaliknya, data tahun 2019 menunjukkan bahwa satu negara maju mampu mendapatkan 10 persen dari PDB-nya dengan menggunakan kekuatan internet, bukan teknologi secara lebih luas, melainkan internet. Jadi, dapatlah kita bayangkan apa yang akan terjadi jika lebih banyak orang memiliki akses ke internet. Dan jangan sampai kita lupa, akses ke internet akan memberi anak-anak di pedalaman Papua hak untuk belajar. Mereka akan dapat belajar, melihat perkembangan pengetahuan dan semakin dekat mewujudkan mimpi mereka berkontribusi di berbagai bidang.

Jadi, kita harus bertindak sekarang. Kita perlu secara aktif dan kolektif memastikan bahwa ke depan, setiap orang memiliki akses ke internet yang bebas, adil, dan feminis. Kami tidak dapat berpaling muka hanya karena kita telah merasa nyaman dan telah memiliki akses yang luas. Karena Indonesia butuh kontribusi 117 juta orang. Kita membutuhkan mereka juga untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi. Kita juga membutuhkan suara mereka dalam politik, suara mereka dalam isu-isu sosial.

Internet yang adil tentu adalah pekerjaan besar. Tetapi kita harus mulai dari sekarang. Pekerjaan ini membutuhkan pemerintah dan mitra pembangunan untuk mulai mengakui bahwa hak digital di era digital penting bagi setiap orang. Pengakuan itu melalui kebijakan yang mendorong persaingan di antara penyedia teknologi, perubahan kurikulum sekolah yaitu dengan memasukkan literasi digital dan internet gratis untuk warga berpenghasilan terendah. Namun, semua itu hanyalah titik awal. Tapi, kita juga harus mengerti bahwa saat ini perekonomian mulai merangkak pasca resesi besar. Sehingga maklum bisa pemerintah belum akan memprioritaskan akses internet. 

Satu hal yang mungkin kita semua dapat sepakati adalah bahwa pasti ada cukup sumber daya internet untuk digunakan, dan teknologinya tentu saja cukup maju untuk memastikan bahwa setiap orang dapat memiliki akses internet. Kita hanya perlu memikirkan bagaimana kita menyatukan seluruh sumber daya ini sehingga anak-anak di pedalaman Papua dan remote area yang lain tidak hanya memiliki akses ke konten pembelajaran yang relevan dengannya dan konvensional, tetapi mereka juga dapat mengambil bagian dalam diskusi-diskusi ekonomi, dalam wacana politik dan isu-isu sosial. Anda dan saya, kita yang dapat mengakses internet, harus berdiri bersama dengan mereka yang tidak memiliki akses. Kita perlu memastikan bahwa kita tidak meninggalkan 117 juta orang itu dan kita memastikan mereka memiliki akses ke semua alat yang mereka butuhkan untuk meningkatkan potensi penuh mereka.

Jadi setelah mengetahui bagaimana internet yang adil sangat penting bagi pembangunan, kira-kira bagaimana kita akan berkontribusi untuk mengurangi jumlah 117 juta orang itu?

[***]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *