Panen Padi

Oleh : Deny Riani Maghfiroh, SST (Statistisi pada BPS Provinsi Papua)

Di tengah wacana impor satu juta ton beras oleh pemerintah Indonesia, Provinsi Papua patut mengkaji ulang bagaimana kondisi stok pangannya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata konsumsi beras per orang dalam satu tahun di Papua mencapai 54,2 kg (data 2019). Jika ada 4,3 juta penduduk tinggal di sana pada tahun 2020 maka dibutuhkan sekitar 233 ribu ton beras selama satu tahun untuk memenuhi kebutuhan berasnya.

Selama ini kebutuhan beras di Papua memang belum bisa seluruhnya dipenuhi dari produksi sendiri. Menurut Perum Bulog Kanwil Papua dan Papua Barat, stok beras dalam negeri Papua baru mencapai sekitar 50 persen dari kebutuhannya. Kekurangannya masih harus diimpor dari luar daerah seperti dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Stok beras dalam negeri Papua yang utama berasal dari Kabupaten Merauke. Kurang lebih 90 persen dari total produksi beras di Papua dihasilkan dari sana. Sebab itu, Merauke tak hanya mampu menghasilkan beras untuk mengenyangkan 228 ribu jiwa penduduknya, tetapi juga sangat potensial untuk diimpor ke luar daerah.

Produksi beras Merauke pada 2018 mencapai 115 ribu ton. Angka ini meningkat 5,74 persen pada 2019 menjadi 122 ribu ton. Namun, pada 2020 yang lalu produksinya sempat turun cukup tajam mencapai -29,92 persen menjadi hanya 85 ribu ton.

Bupati Merauke tahun 2020 yang lalu, Frederikus Gebze, menjelaskan penurunan produksi disebabkan oleh realisasi luas tanam padi belum sesuai dengan target. Implikasinya, luas panen dan produksi juga menurun. Belum tercapainya sasaran itu karena pengaruh iklim serta adanya organisme pengganggu tanaman seperti hama tikus dan burung.

Penurunan produksi beras pada 2020 sesungguhnya tidak hanya terjadi di Merauke, tetapi juga pada sebagian besar wilayah di Indonesia. Selain karena faktor alam, adanya pandemi Covid-19 pasti memberi dampak pada produktivitas pertanian kala itu.

Namun, sektor pertanian Merauke masih tumbuh positif sebesar 0,12 persen meski di tengah pandemi. Capaian ini patut diapresiasi, walaupun pertumbuhan sepanjang tahun 2020 tidak setinggi yang pernah terjadi pada beberapa tahun sebelumnya.

Kekukuhan sektor pertanian dalam menghadapi badai pandemi menjadi modal penting untuk bangkit kembali. Tahun 2021 ini juga diprediksi akan terjadi panen raya padi.

Produksi padi mulai mengalami peningkatan yang cukup fantastis pada subround pertama ini jika dibandingkan kurun waktu yang sama pada 2020. Pertumbuhannya mencapai 117,15 persen untuk seluruh produksi padi di Papua. Sementara untuk Merauke sendiri, pertumbuhannya mencapai 146,49 persen.

Sayangnya, panen raya ini harus dilalui dengan rasa cemas seiring bergulirnya isu impor satu juta ton beras. Para petani khawatir harga gabah akan anjlok. Belum lagi ketakutan akan merugi jika hasil panennya tidak dapat diserap pasar.

Kecemasan ini ternyata diikuti kenyataan bahwa daya beli petani yang diukur melalui nilai tukar petani sempat anjlok pada bulan Februari yang lalu.

Nilai tukar petani merupakan nilai yang digunakan untuk mengukur kemampuan menukar barang-barang (produk) pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga dan keperluan dalam memproduksi hasil pertanian.

Semakin tinggi nilai tukar petani secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Pada Februari 2021, nilai tukar petani untuk tanaman pangan di Papua sebesar 102,28 atau turun -0,35 persen dibandingkan Januari 2021. Penurunan ini menandakan daya beli petani pada Februari lebih rendah. Nilai yang diterima petani turun sedangkan nilai yang harus dibayar petani justru naik.

Kesejahteraan petani harus diperhatikan dan selalu dijamin agar tetap produktif. Panen raya ini adalah momen untuk mengamankan stok beras dalam negeri dalam beberapa jangka waktu kedepan. Mendahulukan produksi dalam negeri merupakan sebuah langkah bijak daripada tergesa-gesa mengimpor. Kekuranganya baru dipasok dari luar daerah.

Kebijakan pemerintah yang memihak para petani mutlak dibutuhkan diantaranya dengan menetapkan harga gabah yang layak serta menyerap seluruh hasil panen. Upaya ini akan memacu semangat petani untuk bertanam dan meningkatkan produksi.

Harapannya, Papua bisa sedikit demi sedikit meningkatkan stok beras dalam negerinya demi mencapai swasembada pangan. Cita – cita ini sangat mungkin untuk diwujudkan.

Potensi pengembangan padi di Merauke didukung oleh sumber daya alam berupa iklim, tanah, dan air yang amat sesuai pada sebagian besar lahan di sana. Menurut Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Papua ada 3,8 juta potensi lahan yang bisa dikembangkan untuk tanaman pangan dan holtikultura di Merauke, tetapi baru 39 ribu atau 1,02 persen yang sudah dimanfaatkan (data 2012).

Jika 98,98 persen lahan lainnya bisa dikembangkan dengan baik, maka produksi padi dan beras Merauke bahkan bisa melebihi kebutuhan Papua saat ini.

Bantuan produksi juga dibutuhkan untuk mewujudkan cita-cita ini, seperti subsidi bibit unggul dan pupuk. Dengan bibit unggul maka padi yang dihasilkan akan lebih berkualitas. Adanya subsidi juga akan meringankan biaya produksi.

Pengadaan alat dan mesin untuk penanaman dan pemanenan padi sangat dibutuhkan untuk proses produksi yang lebih efektif dan efisien. Dengan menggunakan alat dan mesin yang memadai akan memperpendek waktu proses yang diperlukan pada setiap tahap serta mampu meningkatkan hasil produksi. Berbagai upaya pemerintah dan kerja sama dari banyak pihak pada akhirnya akan membangkitkan optimisme bahwa Papua mampu mewujudkan swasembada pangan. Hal ini seirama dengan harapan Presiden Joko Widodo dalam membangun food estate untuk memperkuat cadangan pangan nasional dan menjamin ketahanan pangan.[***]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *