Kisah Slamet, Penjual Pentolan Goreng Mengayuh Sepeda Keliling Manokwari

0
IMG_20180328_215240_831_scaled

Manokwari, TP – Setiap orang mempunyai keinginan untuk hidup lebih layak di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kelayakan hidup ini adalah syarat yang harus dipenuhi dengan bekerja tanpa mengenal lelah.

Demikian juga dengan spirit hidup yang dimiliki seorang penjual pentolan goreng mengelilingi Kota Manokwari, bernama Slamet. Dia tetap bekerja keras meski di tengah situasi kurang kondusif akibat pandemi Covid-19.

Dengan mengayuh sepeda, dia berkeliling untuk menawarkan jualannya. Setiap hari, aktivitas berjualan dilakukan mulai pagi hingga menjelang Magrib. Ketika berjualan, seringkali terlihat keringat membasahi sekujur tubuhnya yang sudah termakan usia.

Namun, hal tersebut bukan menjadi penghalang dirinya. Slamet tetap tegar dan bekerja keras meski usianya tidak mudah lagi.

Di dalam dirinya, selalu tersirat semangat memaknai “Homo Laborans” atau manusia pekerja yang telah tertanam sejak puluhan tahun silam. Manusia adalah pekerja yang berguna bagi diri sendiri, sesama, dan Tuhan.

Diri sendiri menjadi prioritas dari kerja yang tersalurkan dalam kehidupan sesama dan berorientasi terhadap sang pemberi kehidupan, Tuhan.

Ditemui Tabura Pos, belum lama ini, Slamet berkisah tentang memaknai hidupnya dengan bekerja, berjualan pentolan goreng mengelilingi Kota Manokwari.

“Sudah 15 tahun saya berjualan pentolan goreng ini. Dari pagi saya sudah keluar dari rumah di Jl. Merapi, Fanindi menuju depan SMP YPK 2 Manokwari hingga siang. Menjelang sore, saya berpindah ke Lapangan Borarsi, selanjutnya berkeliling di Jl. Yos Sudarso dan kembali beristirahat di rumah,” ungkap Slamet.

Dia mengaku, sebagai penjual pentolan goreng, penghasilan yang diperoleh terkadang tidak menentu. Namun, ia tetap bersemangat dalam menjajakan pentolan goreng.

“Saya harus tetap bekerja dengan menjual pentolan goreng demi membiayai kehidupan setiap hari bersama istri tercinta di tengah usia yang semakin menua,” katanya.

Untuk itu, Slamet berharap, kaum muda harus mencontohi aktivitasnya sebagai penjual pentolan goreng yang bekerja mengayuh sepeda keliling Kota Manokwari.

“Kaum muda adalah pekerja untuk kemajuan bangsa dan negara. Oleh karena itu, mereka harus menggunakan waktu dengan bekerja keras. Apapun jenis pekerjaan, intinya halal dan dapat membahagiakan hidup saat ini dan masa depan,” tandas Slamet. [CR49-R1]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *