Dulu dan Kini, Asmat Tak Lagi Sama
Tampak warga tengah memuat barang ke KMP Bambit dan KMP Muyu di Pelabuhan Ferry Kelapa Lima Merauke.
Merauke, PSP – Masih teringat jelas, akhir bulan Desember 2017 dan awal bulan Januari 2018 silam, di Papua khususnya wilayah Selatan terasa tenang.
Laman – laman informasi media massa, koran, media online pun tidak ada berita yang terlalu wah. Suasana damai Natal juga masih terasa, ditambah datangnya tahun baru yang penuh harapan.
Saya, dan beberapa kuli tinta di Merauke tetap melakukan tugas peliputan di lapangan, meninggalkan rumah sejenak di tengah perayaan kumpul dengan keluarga.
“Jika di rumah saja, sudah pasti tidak dapat informasi,” begitu prinsip kebanyakan wartawan.
Kami berkumpul di warung tempat biasa para pewarta kota ini berbagi informasi. Saat itu, keheningan seketika pecah, seorang teman datang lalu duduk bergabung.
Menyampaikan kabar, bunyinya begini, “kamu orang tidak dengar kah, katanya ada temuan kasus campak dan gizi buruk di Asmat,” ujarnya.
“Iya kah,” timpal kawan yang lain.
Dari sana, para kuli tinta mencoba terus mencari informasi valid. Hingga akhirnya, laman – laman media massa dipenuhi dengan berita kasus campak, gizi buruk sampai mengakibatkan kematian anak di Asmat.
Dan benar, pada 15 Januari 2018, Asmat yang kala itu dipimpin Elisa Kambu menggelar konferensi pers untuk membenarkan hal itu.
Bupati Elisa Kambu kala itu, secara konsisten menyebutkan kendala transportasi jadi faktor utama permasalahan itu bisa terjadi. Sebab, untuk mengangkut orang, logistik, juga bahan pokok, dari luar ke Asmat maupun dari ibu kota Asmat yakni Agats ke distrik dan kampung saat itu sulitnya minta ampun.
Ada nyawa yang hilang akibatnya. Berkaca atas kasus itu, pemerintah daerah, pusat, kementerian/lembaga, berjuang menghentaskan kasus gizi buruk dengan berbagai cara. Berbondong – bondong datang dan merealisasikan program pembangunan serta pelayanan ke Asmat.
Salah satunya pelayanan angkutan laut.
Mengingat kondisi geografis Asmat dikelilingi sungai-sungai besar, dan akses langsung ke laut.
“Kala itu, Pemda Asmat melalui Bupati Asmat saat itu (Elisa Kambu) menerima kunjungan Sesditjen Perhubungan Darat dan staf ahli Menhub, meminta bantuan hadirnya kantor ASDP di Kabupaten Asmat dalam rangka membantu pelayanan transportasi dalam kabupaten untuk menjangkau distrik dan kampung menuju kota Agats,” ujar Sekertaris Dinas Perhubungan Asmat, Maichel Womsiwor mengisahkan di Merauke, Jumat (29/8).
Memang, lanjut Womsiwor, ASDP sudah melayani Asmat sejak tahun 2010/2011. Yang kala itu, KMP. Muyu dimandatkan pertama kali membuka pintu keterisolasian di Asmat.
“Di awali satu kapal waktu itu melayani, yakni kapal KMP.Muyu, kemudian diganti dengan KMP. Bambit (dari Merauke), lalu tahun 2017 ditambah lagi KMP Kokonao (dari Pomako Timika),” kisah Womsiwor lagi.
Dari hasil pertemuan pemerintah Asmat dengan kementerian kala itu, menyusul kasus gizi buruk mulai reda dan status KLB (Kasus Luar Biasa) pun dicabut pada Februari 2018, didapati pula hasil pertemuan, akan ada penambahan satu kapal yakni KMP. Binar yang dikelola ASDP melayani Asmat dengan rute Pomako – Asmat pada tahun 2018.
“Sebab salah satu penyebab terjadinya KLB di Asmat saat itu adalah kesulitan mendapatkan transportasi dan mahalnya biaya transportasi, sehingga kapal – kapal ini hadir, sebagai Kontribusi ASDP untuk rakyat paska KLB,” lanjut Womsiwor.
Aksesibilitas ke Asmat, dan antara Ibu kota Asmat, Agats ke kampung dan distrik semakin mudah yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi.
“Sebelum tahun 2018 masih sulit khususnya dari distrik ke ibu kota kabupaten. Sekarang distribusi logistik semakin lancar, berpengaruh pada disparitas harga barang-barang pokok.
Seperti air mineral saja, dulu Rp.110.000 per karton, sekarang sudah sama kayak di Merauke Rp. 75.000 sampai Rp. 80.000. Ya kita harus akui ekonomi dia bertumbuh. Bisa dilihat dari gencarnya pembangunan hotel, maupun investasi lainnya,” ungkap dia.
Daerah yang dikunjungi dalam lintasan kapal ASDP di Asmat diantarnya :
1. KMP. Bambit rute Merauke-Wanam-Atsj-Agats-Atsj-Senggo/Mappi pulang dan pergi (PP). Lintasan ini melewati beberapa kampung di Asmat yaitu kampung Fos, Waganu, Jinak dan Wowi.
2. KMP. Kokonao rute Pomako-Agats-Atsj-Eci/Mappi pulang dan pergi (PP)
3. KMP.Binar rute Pomako-Agats-Sawa Erma-Agats-Akat-Katew-Agats-Yufri-Komor-Agats-Pomako pulang dan pergi (PP).
“Untuk kampung Waganu dan Jinak sementara ini memang belum dapat disinggahi KMP. Bambit, dia cuma lewat aja, karena kapasitas dermaga tidak memenuhi syarat untuk kapal dengan GT 300an lebih seperti Bambit. Namun pemerintah daerah tengah berupaya menyurat ke Kemenhub untuk direvisi perubahan lintasan kapal KMP.Binar yang GT -nya lebih kecil agar dapat menyinggahi dua kampung ini dengan lintasannya sampai ke distrik Suator, sementara masih proses pengajuan permohonannya,” kata Wamsiwor.
Salah seorang pedagang sembako di Agats Abdul mengatakan untuk memesan barang sekarang langsung berhubungan dengan distributor di Timika dan tak jarang menggunakan KMP. Binar juga KMP. Bambit untuk mengangkut barangnya.
“Sekarang kan ada kapal Binar dari Timika ke Asmat, ada juga Bambit dari Merauke, kita yang langsung menghubungi distributor barang-barang pokok taruh disitu (Bambit dan Binar). Pernah itu tahun 2014 satu botol besar air mineral saja kami harus jual seharga Rp. 25.000 sekarang Rp. 10.000, karena memang susah distribusi barang waktu itu, tambah saat itu musim panas panjang, air galon kami jual Rp. 250.000 itu dari Timika, sekarang kan tidak lagi, kapal dia mobile,” kata Abdul.
Abdul melanjutkan, saat ini harga-harga barang maupun bahan pokok di Asmat sama dengan di Merauke.
“Sudah mulai berkembang sekarang (Asmat) su sama seperti di Merauke, pakaian-pakaian, makanan,” ujar pria yang sering bolak-balik Merauke-Asmat ini.
Walau Sebatas Lewat, KMP Bambit Berikan Harapan Hidup Bagi Warga di Kampung Jinak dan Waganu
Kampung Jinak Distrik Suator dan Kampung Waganu Distrik Sirets Kabupaten Asmat, dua wilayah dari beberapa wilayah penyumbang kasus, kala peristiwa gizi buruk terjadi. Karena sulitnya akses pangan dan transportasi.
Tapi, itu dulu. Sekarang di wilayah ini serasa ada di depan mata. Armada ASDP lewat di sana meski tak singgah apalagi bersandar.
“KMP Bambit melewati kampung kami, Jinak. Hanya saja tidak sandar di Jinak. Karena memang tidak ada ijin berlabuhnya, itu saja syukur. Tapi bahan pokok untuk kampung Jinak begitupun Waganu, hampir seluruhnya dibawa Bambit yang dipesan warga maupun pedagang dari Merauke, karena Bambit bisa lewat dari sini 3 sampai 4 kali setiap bulan. Dan itu masyarakat terbantu, jadi ada perputaran ekonomi, masyarakat makan dari situ,” ujar Babinsa Kampung Jinak Distrik Suator Kabupaten Asmat Serda Muhammad Ali Karepesina saat dihubungi lewat sambungan telepon, 31 Agustus 2025 lalu.
Seringkali, warga Jinak memohon lewat koordinasi dengan pihak kapal ketika KMP. Bambit hendak melewati distrik Suator, agar bisa mengurangi kecepatan sejenak saat melewati Jinak maupun kampung Waganu agar barang yang sudah dipesan sebelumnya dari Merauke dapat diturunkan di atas air, sambil kapal berjalan.
Dan tak jarang pula, pihak kapal memperlambat laju kapal, untuk barang diturunkan.
“Iya (pihak kapal berkenan memperlambat laju, red). Barang-barang bahan pokok masyarakat yang dipesan dari Merauke yang dititipkan ke kapal, dan koordinasi dengan kapal, kalau bisa sebentar sambil kapal berjalan pelan-pelan kemudian barang diturunkan, masyarakat datang ambil menggunakan ketingting, dan ini tidak sampai satu atau dua menit, karena memang tidak ada ijin untuk bisa berlabuh disini. Dan pada kesempatan demikian juga, anak-anak Jinak yang mau sekolah atau kuliah ke Merauke naik ke kapal,” ungkap Serda Muhammad.
Kehadiran KMP Bambit meski hanya sesaat, memberi harapan bagi masyarakat untuk melanjutkan hidup, mulai kebutuhan makan, ekonomi, sampai melanjutkan sekolah. Kehadiran nya bukan hanya menegakkan aturan, ini tentang hidup dan masa depan.
“Dari pihak kapal pernah meminta agar masyarakat membuat pengajuan ke ASDP supaya KMP Bambit bisa sandar di Jinak dan Waganu. Hal ini juga sudah menjadi bagian aspirasi masyarakat disini. Karena di sekitaran kampung Jinak, ada beberapa kampung searah dilewati KMP Bambit, seperti kampung Waganu, Waganu I, Waganu II, kampung Soray dan kampung Bugis distrik Sirets,” ungkap Serda Muhammad.
Plt. Manager Usaha dan Tehnik PT. ASDP Cabang Merauke Burhanuddin menyatakan KMP. Bambit milik ASDP sampai saat ini melayani masyarakat dengan rute Merauke – Atsi – Agats – Atsi – Senggo.
“Rute Bambit memang melewati 2 kampung itu, baik Jinak maupun Waganu. Tapi untuk surat tugas atau ijin untuk berlabuh disana itu tidak ada,” kata Burhanudin di ruang kerjanya, Senin (8/9).
Kampung-kampung ini merupakan cakupan wilayah terpelosok di Asmat dan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sedianya, kata Burhanudin, ASDP adalah operator yang siap melayani demi berkontribusi bagi rakyat dan menyatukan nusantara.
“Nanti jika memang masyarakat dan pemerintah mendorong permohonan ke kami maupun kementerian, kami pun akan bantu. Kita bangga jika bisa berkontribusi dan menyatukan nusantara,” kata Burhanuddin.
Diungkapkan dia, kapal ASDP yang melayani wilayah Asmat merupakan transportasi bersubsidi yang dapat mengangkut orang juga barang pokok seperti barang curah.
Kini, Asmat dan beberapa wilayah cakupannya tidak lagi sama seperti dulu. Ada kehidupan dan harapan, setelah disentuh ASDP paska KLB. Kantor Satuan Pelayanan (Satpel) Agats Asmat BPTD Kelas II Papua atau kantor pelabuhan Ferry pun sudah berdiri di Agats yang dimandatkan untuk senantiasa memastikan pelayaran kapal. Sedangkan di Merauke ada Pelabuhan Ferry yakni Satuan Pelayanan Kelapa Lima.
Pengembangan sarana dan prasarana transportasi di Papua juga sejalan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di wilayah Papua. [JUNEDI ERON HAMONANGAN SIMBOLON]
