Tragedi Memilukan di Double O
Merauke, PSP- Hari telah berganti. Senin (24/1/2022) menjadi Selasa (25/01/2022). Waktu saat itu, menunjukkan pukul 01.50 Wit. Dari atas bukit Jupiter, sekelompok warga sedang berkumpul. Ada yang memegang alat tajam sambil berdiri dan ada yang duduk dengan tatapan penuh siaga memandang ke arah bawah bukit menuju arah Jalan Sungai Maruni Km 10 Kota Sorong , Provinsi Papua Barat.
Rupanya warga yang berkumpul tersebut sedang memandang kelompok pemuda yang berjumlah ratusan orang yang tampak berkelompok-kelompok. Mereka sedang berusaha menerobos tameng pagar hidup yang dibuat oleh Aparat Kepolisian diback up mobil anti huru-hara berada tidak jauh dari tanjakkan naik ke bukit Jupiter.
Sekitar 25 menit berdiri, dari atas bukit Jupiter kelompok massa di jalan Jupiter sangat dekat sekali posisinya dengan aparat kepolisian yang membentuk tameng. Botol dengan nyala api tampak dilemparkan ke tengah aparat Kepolisian yang membuat tameng.
Tanpa menunggu lagi, peluru gas air mata pun langsung ditembakkan aparat Kepolisian. Tembakan peluru gas air mata tersebut membuat kelompok massa yang berada di Jalan Sungai Maruni langsung berhamburan berlari mundur.
Aparat Kepolisian yang diback up truk anti huru-hara langsung bergerak maju untuk terus memukul mundur kelompok massa yang diperkirakan berjumlah sekitar ratusan orang semakin menjauh dari Bukit Jupiter.
Sementara kelompok massa yang berada di bukit Jupiter tetap pada posisinya. Mereka hanya ikut memberikan suara dukungan buat aparat Kepolisian yang tengah menembakkan peluru gas air mata untuk memukul mundur ratusan massa.
Setelah massa dipukul mundur tepat di perempatan di depan Supermarket Jupiter Sorong barulah satu unit mobil pemadam kebakaran bergerak menuruni bukit Jupiter menuju bangunan Double O Executive Karaoke & Club Sorong yang terbakar.
Sampai dengan pukul 02.50 wit , Aparat Kepolisian telah berhasil memukul mundur kelompok massa yang berada di Jalan Sungai Maruni hingga ke lampu merah pertigaan Jalan Basuki Rahmat KM 10. Bunyi tembakan gas air mata terdengar di kejauhan.
Selang 4 jam kemudian kabar menyayat hati bertebaran di media nasional. Di lokasi kejadian, media ini mendapatkan cerita lengkap sebelum massa membakar bangunan Double O.
Sebelum pembakaran terjadi sekitar pukul pukul 00. 30 wit, datang massa dengan jumlah yang cukup besar. Mereka datang dengan penuh amarah, setelah mendapat kabar salah satu rekannya, Khani Rumaf (27 tahun) telah meninggal dunia akibat dibacok.
Massa tersebut bergerak hendak melakukan penyerangan balasan. Lalu tepat berada di depan halaman Double O, terdengar teriakan bakar Double O. Mendengar teriakan itu, aparat keamanan yang terdiri dari Babinsa dan Aparat Kepolisian dengan jumlah yang sedikit hanya berupaya menahan massa yang sangat emosional.
Massa saat itu sempat memberi ultimatum agar semua orang didalam Double O segera keluar. Aparat keamanan pun langsung berupaya mengevakuasi semua pengunjung termasuk karyawan Double O.
Aparat keamanan yang berjumlah tidak sebanding dengan massa yang sedang marah, lebih memilih bersikap save dengan tujuan utama mengevakuasi pengunjung dan karyawan Double O. Saat proses evakuasi tidak semudah yang dibayangkan, sebab masih terjadi saling adu mulut. Ada yang langsung keluar, namun ada pula yang tidak mau keluar, karena takut, sehingga aparat keamanan harus sedikit bersuara keras.
Pihak keemanan sempat menghitung jumlah karyawan Double O yang dievakuasi sebelum terjadinya pembakaran. Setelah semua keluar, aparat keamanan masih sempat mengecek situasi di dalam gedung untuk memastikan bahwa sudah tidak ada lagi orang di dalam gedung.
Namun aparat keamanan tidak mengecek lagi ke lantai I. Nanti setelah sampai di luar halaman Double O, barulah beberapa karyawan yang dievakuasi menyampaikan ada temannya yang tidak ada. Jumlah karyawan Double O yang dievakuasi sekitar 31 orang ada tiga orang yang hilang.
Mendengar itu, aparat keamanan hendak balik, namun melihat mobil warna putih di stop massa di jalan tepat di depan pintu masuk halaman Double O telah dibakar. Kemudian tidak berselang lama terdengar bunyi seperti bom molotov dari arah bangunan Double O dan mulai dibakar.
Aparat keamanan sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk kembali masuk ke gedung dengan tujuan menyelamatkan karyawan yang tidak ada. Dan lebih memilih membentuk blockade untuk menghindari bentrokan antar dua kelompok massa.
Faktor lain yang membuat aparat keamanan tidak bisa lagi mendekati Bangunan Double O yang terbakar dikarenakan terdengar bunyi ledakan dari dalam bangunan. Pihak aparat menduga di dalam bangunan ada tabung gas, sehingga aparat keamanan tidak bisa memaksa untuk masuk.
Api baru berhasil dijinakkan sekitar pukul 04.00 wit oleh petugas pemadam kebakaran. Petugas lalu menerobos masuk dan menemukan bahwa di salah satu ruangan di lantai II ada korban. Petugas pemadam kebakaran lalu menyampaikan kepada aparat kepolisian untuk selanjutnya dilakukan proses evakuasi.
Hal ini dibenarkan Kapolres Sorong Kota AKBP Ary Nyoto Setiawan. “Saat tim pemadam melakukan pemadaman api ditemukan 11 jenazah dalam satu ruangan karaoke tersebut,” kata Kapolres kepada awak media.
Sungguh menyanyat hati, korban yang terbakar di lantai II Double O malah berjumlah 17 orang. 17 orang yang tewas terpanggang sebagian besar tidak ber –KTP domisili Sorong.
Data pasti jumlah korban diketahui pihak kepolisian setelah melakukan olah TKP bersama Tim dokter dan Reskrim Polres Sorong Kota. Hasil oleh TKP menemukan ada 17 jenazah ditemukan dalam keadaan hangus terbakar.
Kabid Humas Polda Papua Barat Kombes Pol Adam Erwindi menyampaikan ke-17 orang itu saat kejadian, langsung lari ke lantai dua gedung untuk bersembunyi, karena khawatir dan takut. Saat bersembunyi, mereka tidak tahu bahwa gedung dibakar dari lantai 1. “Sehingga saat api berkobar sangat besar, mereka 17 korban tewas ini sudah tidak bisa lagi turun untuk menyelamatkan diri,” ucap Adam Erwindi.
Dari penulusuran yang dilakukan Papua barat Pos diketahui 17 orang yang tewas terbakar merupakan kru dancer eFamous asal Bandung yakni Mimi, Afifah Putri, Rista dan Ananin Novelia. Lalu 6 dari 7 personil RockVolution Band asal Surabaya yakni vokalis Ami, Meilan dan Kris serta Dezra (gitaris), Yanra (bassis) serta Sony (drummer). Ditambah lagi Cleo Indah asal Padang, Sumatera Barat yang merupakan home disk jockey (DJ) serta 3 orang supplier minuman yaitu Edith Tri Putra, Ferman Syahputra dan Ridwan Dodoh.
Kejadian naas pada Selasa dini hari merupakan buntut dari pertengkaran yang terjadi pada hari Minggu (23/1/2022) antara pengunjung dan security Double O. Sehingga boleh dikatakan, kesalahpahaman yang berubah menjadi tragedi kemanusiaan.
“Awalnya terjadi kesalahpahaman antara pengunjung dengan pihak security di dalam hall tempat karaoke Double O. Kesalahpahaman kemudian berlanjut sampai di luar gedung dan sampai ada aksi pertikaian yang berujung pada pengrusakan sekretariat salah satu suku,” kata Kapolres Sorong Kota AKBP Ary Nyoto Setiawan, Selasa (25/1).
Kesalahpahaman yang berubah menjadi tragedy harus diusut tuntas, sebab ada perbuatan tindak pidana yang telah mengakibatkan 18 orang yang meninggal dunia dan menggemparkan nasional bahkan sampai di dunia internasional.
Kapolda Papua Barat Irjen Pol Tornagogo Sihombing telah menegaskannya. Apapun itu, hukum harus diletakkan diatas segalanya. Pertikaian antara dua kelompok masyarakat yang terjadi di Kota Sorong, Papua Barat yang berujung adanya pembakaran gedung diskotek Double O sehingga menewaskan 18 orang merupakan persoalan tindak pidana.
“Ini merupakan persoalan tindak pidana. Penegakkan hukum harus diletakkan diatas segala-galanya. Saya ada di Kota Sorong untuk memastikan semua proses berjalan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Kapolda Papua Barat usai memimpin rapat bersama seluruh jajarannya, di halaman Diskotek Double O, Selasa (25/1).
Dikatakan Tornagogo, dirinya sudah menggelar rapat untuk membahas apa saja yang harus dilakukan oleh pihak Kepolisian terkait penanganan kasus pertikaian dua kelompok masyarakat yang berujung pada pembakaran Diskotek Double O.
“Kita sekarang sedang melakukan apa saja yang bisa kita lakukan, mulai dari melakukan olah TKP di lokasi kejadian. Selanjutnya kita akan memitigasi persoalan ini,” ujarnya.
Tercatat ada 6 sampai 7 TKP yang harus diungkap. “Kami sekarang sedang dalam proses menangani peristiwa yang terjadi, sebab ada terjadi beberapa kejadian dalam satu malam ini atau sebelumnya,” tuturnya. [EYE-SF]
