PT. Harvest Gandeng Konsultan Atasi Keluhan Bau Tak Sedap
Manager PT. Harvest dan konsultan sedang menunjukkan sistem baru guna mengurangi aroma tak sedap yang dikeluhkan warga. Foto: PSP/ERS
Merauke, PSP – PT. Harvest Pulus Papua perusahaan peternak ayam petelur di Merauke, menggandeng konsultan lingkungan guna mengatasi persoalan keluhan warga sekitar mengenai aroma bau tak sedap di lingkungan itu.
Manager PT. Harvest Pulus Papua, Lukas Budi mengatakan, upaya penggandengan konsultan ini guna merespon keluhan masyarakat mengenai bau tak sedap yang ditimbulkan dari perusahaan.
Dari hasil pertemuan dengan pemerintah, DPRD dan masyarakat, kata Lukas, ada beberapa rekomendasi tehnis yang diberikan kepada perusahaan.
Mengacu dari rekomendasi tehnis itu, bahwa saat ini perusahaan tengah melaksanakan rekomendasi tersebut guna mengurangi aroma bau tak sedap.
“Salah satunya sistem penanganan limbah, dimana dulunya dilakukan secara manual dengan membuka tirai dan menarik kotoran keluar, dan membawa ke tempat fermentasi yang waktunya bisa memakan 3 sampai 4 hari sehingga aroma menebar kemana – mana,” kata Lukas di kantornya kemarin.
Namun, saat ini lanjut Lukas, pihak perusahaan tengah berupaya mengurangi aroma bau dengan menggunakan mesin pemeras limbah. Sehingga memisahkan limbah padat dan cair.
“Mesin sudah ada, dan sudah kami oprasikan. Sesuai dengan janji kami kepada warga, sekarang dari empat kandang kami yang beroperasi semuanya sudah menggunakan mesin strepper semua. Strepper adalah yang tadinya sistem pembuangan dilakukan secara manual dengan membuka tirai. Sekarang kami lakukan dengan tertutup artinya sama sekali tidak terbuka dan ini hanya memakan waktu 3 jam saja,” papar Lukas.

Dikatakannya, “Potensi kami menangani limbah hanya 2 sampai 3 jam, kemudian kami tarik kebelakang dengen menyedot menggunakan pompa guna memisahkan padatan dan cairan. Dari situ kami rasa aroma bau sudah berubah, jadi kalau dibilang menyengat sangat tidak tepat”.
Sementara itu, Ir. Suryadi,S.TP.,IPP.,M.Si yang di mandat sebagai konsultan mengatasi aroma tak sedap di perusahaan Harvest mengatakan, didalam dokumen yang dibuat untuk PT. Harvest, salah satu parameter yang di uji adalah kualitas udara dan tingkat kabauan.
“Tentunya kami mengacu pada peraturan Kementrian Lingkungan Hidup untuk tingkat kebauan. Disini kami mengambil beberapa titik. Satu di dalam kandang, yakni tandon, dan yang satunya kami menyesuaikan arah angin dengan posisi kandang kearah persawahan dengan jarak 111 meter,” ungkapnya.
Dari hasil pengamatan, lanjut dia, kalau di dalam kandang sendiri sekitaran tandem tidak melewati batas yang diatur dalam peraturan lingkungan. Tetapi untuk jarak 111 meter, amoniak baku mutu 2,0 hasilnya 1,2, sedangkan untuk hidrogen sulfida dari batasnya 0,2 hasilnya 0,2 .
“Jadi pas dengan batas yang ditentukan dalam peraturan artinya tidak melebihi. Walaupum hasil lab nya ini tidak melanggar aturan tetapi karena ada keluhan masyarakat, kami tetap menerima masukan masyarakat dengan mencoba untuk menurunkan kadar kebauan lagi,” katanya.
Sehingga, kata Suryadi, Harvest disarankan membuat 2 metode. Pertama jangka panjang dan kedua metode jangka pendek.
“Jangka pendeknya saya sarankan membuat suppleir di bagian ventilasi udara keluar. Dan kami sudah coba beberapa kandang menggunakan air campuran E4, dan saya rekomendasikan menggunakan asam asap cair E3. Jadi kami sudah uji 3 sampel, yang paling efesien E3, sehingga aromanya lebih kepada aroma arang. Karena hasil penelitian kami cukup efektif,” papar dia.
Sedangkan jangka panjangnya, sambung Suryadi, disarankan menggunakan wet scrubber untuk di dalam. “Nanti akan dilihat kembali kondisi kandang apakah dia lebih cocok di dalam atau di luar. Tetapi sampai saat ini masih menggunakan jangka pendek,” ujarnya.
Suplayer, kata dia, pertama melihat karakter gas pencemaran. Dimana karakter gas untuk kandang, ada 2 gas yang dominan yaitu amoniak dan hidrogen sulfida.
“Hidrogen sulfida, karakter gas nya dia akan lebih mudah diserap oleh air. Sedangkan amoniak, tidak terlalu cepat di serap oleh air tetapi akan lebih cepat kalau menggunakan asap. Karena ingin menyambungkan kedua metode itu, akhirnya terpilih lah asap cair karena mengandung asap organik, ini anti jamur dan anti bakteria,” papar Suryadi.
Surayadi mengatakan, sudah juga melakukan wawnacara dengan warga setempat, bahwa aroma yang ditimbulkan semenjak dilakukan upaya sudah semakin berkurang. “Saya juga sudah sempat ke lahan masyarakat yang arah anginnya sama. Dan salah seorang warga mengatakan, kalau aroma nya sudah tidak terlalu menyengat. Berarti Harvest memang sedang berusaha merespon keluhan masyarakat,” pungkasnya. [ERS-NAL]
