Gubernur Safanpo: Potensi Perikanan Papua Selatan Melimpah, Terkendala Sarpras

0
Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Industri Perikanan di Papua Selatan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Markas Kodaeral XI Merauke, Senin (23/2).

Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Industri Perikanan di Papua Selatan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Markas Kodaeral XI Merauke, Senin (23/2).

Merauke, PSP – Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, menyebut potensi kelautan dan perikanan di wilayahnya sangat melimpah, namun belum dikelola secara optimal akibat keterbatasan sarana dan prasarana.

Hal itu disampaikan Safanpo saat memberikan sambutan dalam Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Industri Perikanan di Papua Selatan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Markas Kodaeral XI Merauke, Senin (23/2).

“Kita punya hasil yang melimpah tetapi belum bisa kita kelola karena minimnya sarana dan prasarana,” ujarnya.

Safanpo mengapresiasi Komandan Kodaeral XI Merauke bersama jajaran yang berinisiatif mengunjungi para pemangku kepentingan di Papua Selatan, khususnya di tingkat kabupaten dan para pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menginventarisasi berbagai persoalan dan kendala yang dihadapi pelaku usaha.

Ia menegaskan, Papua Selatan memiliki potensi besar di sektor perikanan dan kelautan. Jika dioptimalkan dan dikembangkan dengan baik, sektor ini dapat menghasilkan devisa, pajak, retribusi, serta meningkatkan pendapatan daerah dan kontribusi bagi negara.

Gubernur menjelaskan, pembangunan sektor perikanan difokuskan pada tiga aspek utama, yakni produksi, distribusi, dan pasar. Pada sektor produksi, mencakup perikanan tangkap dan budidaya. Pemerintah, kata dia, berupaya menyediakan alat tangkap bagi nelayan tradisional maupun modern.

Selain itu, Pemprov Papua Selatan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menyediakan sarana produksi seperti tempat pelelangan ikan (TPI).

Pada sektor distribusi, pemerintah mendorong penyediaan jalur distribusi menuju pusat-pusat pasar. Sementara pada sektor pasar, dilakukan inventarisasi dan pengembangan akses pasar bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan.

“Ketiga sektor ini harus dilakukan secara simultan. Tidak bisa kita hanya perhatikan satu dan mengabaikan yang lain,” tegasnya.

Ia mencontohkan, produksi yang baik tanpa dukungan distribusi dan pasar akan membuat hasil tangkapan tidak terserap maksimal. Sebaliknya, pasar yang tersedia tanpa produksi yang memadai juga tidak akan berjalan optimal.

Menurut dia, saat ini Papua Selatan masih mengalami kekurangan di sektor produksi, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana penangkapan serta pengawetan hasil perikanan.

Ia berharap hasil inventarisasi masalah yang telah dilakukan dapat ditindaklanjuti dengan pembagian kewenangan dan langkah konkret perbaikan. “Hasil dari FGD semoga menjadi perbaikan-perbaikan di sektor perikanan dan kelautan,” pungkasnya. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *