Nurlaeni (Baju Merah, atas) dan Mariati Gebze (Baju hitam, bawah) tengah berada di kios milik mereka yang dibangun setelah mendapat sentuhan KUR Pegadaian.

Nurlaeni (Baju Merah, atas) dan Mariati Gebze (Baju hitam, bawah) tengah berada di kios milik mereka yang dibangun setelah mendapat sentuhan KUR Pegadaian.

Merauke, PSP – Saat itu tahun 2022, Nurlaeni perempuan 55 tahun masih menyisir kota Merauke. Membawa kue yang sudah dibuatkannya setiap subuh, untuk selanjutnya menitipkannya di kios – kios.

Berbekal dana yang terbatas untuk membuat kue basah dan kering, terpaksa digeluti nya paska peristiwa Covid sempat menggerogoti ekonomi keluarganya.

Tahun 2022 itu tepatnya tanggal 10 bulan Agustus. Pagi hari, Nurlaeni berjalan membawa kue ke kios yang biasa dititipinya, salah satunya di simpang komplek tempat tinggalnya.

Seusai menitip kue, Nurlaeni duduk sejenak di kursi kios sembari bercerita dengan pemilik kios. Kebiasaan beberapa ibu-ibu komplek di Indonesia pada umumnya.

Di tengah obrolannya dengan pemilik kios, seseorang tampak datang dari luar komplek berpakaian rapi. Menuju kios punya tetangganya itu.

Mendengar isi pembicaraan pemilik kios dengan seseorang tadi, Nurlaeni spontan bertanya , “Dari Pegadaian ya,” ujar Nurlaeni mengisahkan kepada penulis saat ditemui dikediamannya Komplek Romanus Mbaraka, Jl. Brawijaya, Merauke, Provinsi Papua Selatan, 5 September 2025 lalu.

“Namanya pak Alfred. Dia orang Pegadaian. Saya lihat ID Card -nya ada tulisan Pegadaian memang. Pak Alfred tanya saya, ibu sedang ada kegiatan usaha apa, saya jawab lah disitu, titip – titip kue saja ke kios – kios,” lanjut Nurlaeni.

Nurlaeni memilih mencari pemasukan lain membantu suaminya yang berprofesi sebagai pemborong bangunan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ditambah menyekolahkan satu orang anaknya di perguruan tinggi.

“Waktu tahun 2022 itu kan baru selesai Covid, suami juga tidak ada dapat borongan mulai dari tahun 2019. Ada uang sedikit, bikin-bikin kue lah saya mulai dari awal tahun 2022. Titip di kios – kios. Karena ada anak yang masih kuliah juga,” kata Nurlaeni.

Perjumpaan Nurlaeni dengan orang Pegadaian saat itu, seakan membuka pintu kepenatan pikiran dan kegundahan hatinya.

Mengapa tidak, orang Pegadaian itu menanyakan apakah Nurlaeni ingin mengembangkan kegiatan usaha nya itu.

“Nah waktu saya antar kue di kios simpang sana, itu pak Alfred tanya, ibu butuh dana kah, mungkin dia kasihan lihat saya to, waktu itu memang posisinya berat (keadaan ekonomi) yaa saya bilang saya mau sekali,” kembali Nurlaeni mengisahkan.

Dihari itu juga, Nurlaeni diminta memenuhi sejumlah persyaratan administrasi oleh orang Pegadaian tersebut.

“Saya disuruh siapkan KTP, KK, surat nikah, surat ijin usaha, sama rekening listrik. Saya siapkan hari itu juga, karena tidak ada diminta jaminan, prosesnya tidak lama juga, besoknya saya terima waktu itu Rp. 10 juta untuk jangka 1 tahun,” ungkap dia.

Dengan tekad dan niat yang kuat, Nurlaeni mempergunakan uang Rp. 10 juta itu membangun kios 3×5 meter di depan rumah yang sejak lama ia tempati sekaligus masih meneruskan titipan kue – kue nya di kios – kios.

“Nah, terus, pelan-pelan saya bangun lah ini kios, seng nya dan bahan lain saya beli bekas. Supaya cukup isi barang sembako untuk jualan disini to, sambil masih titip kue juga,” lanjut Nurlaeni.

Setahun berlalu, ditahun 2023 perempuan lanjut usia itu kembali mengajukan permohonan pinjaman ke Pegadaian dan kembali mendapat kepercayaan. Maksud dia, membeli mesin untuk membuka jasa mencuci pakaian (laundry) di kios yang sudah didirikannya.

“Sudah tahun ketiga ini saya dapat pinjaman, kedua dan ketiga Rp. 25 juta. Pinjaman kedua kemarin saya beli mesin untuk buka laundry. Pinjaman ketiga bikin buat tambah-tambah jualan. Ya puji Tuhan sekarang,” ujar dia.

Nurlaeni merasa sangat terbantu sejak pertemuannya dengan orang Pegadaian itu. Ditambah bunga dari pinjaman yang diterima tidak begitu memberatkannya.

“Saya sangattt terbantu. Saya bayar per bulan waktu pinjaman awal itu Rp. 845 ribu, tidak pernah telat saya bayar. Bunganya sangattt enteng, cuma Rp. 140 ribu satu tahun. Kalau yang Rp. 25 juta itu sekarang saya bayar setiap bulan Rp. 2 juta 165 ribu,” lanjut Nurlaeni.

Ia mengaku mampu memenuhi pembayaran setiap bulan di pinjaman ketiga kali ini. Apalagi anak yang dikuliahkan nya sudah lulus di tahun 2024 dan sekarang tengah bekerja di salah satu perusahaan besar di Merauke.

“Bisa, (bayar setiap bulan) jatuh tempo setiap tanggal 12 bulan berjalan. Anak juga sudah kerja di perusahaan kan,” tegas Nurlaeni.

Alfred merupakan Asisten Manager Non Gadai di PT. Pegadaian Cabang Merauke. Ia berkontribusi untuk Nurlaeni sebagai representasi PT. Pegadaian di daerah untuk membuat usaha kue titipan Nurlaeni naik kelas sampai membangun kios.

Kini, akan menginjak usia ke 59 tahun Nurlaeni perempuan yang sebagian rambutnya sudah memutih itu beraktivitas menjaga kios yang diisinya dengan sembako, minyak tanah, laundry dan masih membuat kue untuk dijual.

“Sekarang jaga-jaga kios ini saja, sudah tua juga,” pungkas Nurlaeni seraya tertawa pendek.

Alfred saat dikonfirmasi mengenai awal pertemuannya dengan Nurlaeni, menyatakan hal itu merupakan tanggung jawab dan bentuk pelayanan Pegadaian kepada masyarakat.

“Awal itu memang saya ketemu ibu di kios dekat rumahnya, nah, saya tanya butuh dana ya bu, karena memang ada program KUR produk Pegadaian, Ibu bilang mau. Saya jelaskan lah produk KUR itu, syukur ibu dia langsung paham,” ujar Alfred di Merauke, Jumat (26/9).

Melihat ada tekad dan niat baik dari Nurlaeni, Alfred langsung memproses administrasi pinjaman.

“Saya lihat waktu itu ibu Nurlaeni memang dapat dipercaya lah. Makanya kita proses. Hari ini saya tawarin, besoknya langsung cair KUR nya, pencairan pertama itu ditanggal 11 Agustus 2022 ,” lanjut Alfred.

Alfred bersyukur, sampai saat ini Nurlaeni masih terus dipercaya oleh Pegadaian untuk mengembangkan usahanya.

“Iya (bersyukur) karena Ibu memang kelihatan hasilnya, ada laundry juga yang sudah dibuatnya,” ungkap Alfred.

“Segenggam Emas Dariku Untukmu” kalimat ini boleh menggambarkan upaya dan kontribusi PT. Pegadaian lewat produk dan pelayanannya kepada masyarakat.

Bukan saja di wilayah barat dan tengah tapi menyentuh hingga ke ujung timur Indonesia. Merauke.

Segenggam Emas yang dapat dimaknai sebagai sebuah harapan nan indah, dari Pegadaian untuk rakyat Indonesia demi #MengEmaskanIndonesia .

Untuk diketahui, saat ini Pegadaian Cabang Merauke melayani setidaknya 105 nasabah KUR. Di dalamnya ada Erni Carolina dan Mariati Gebze, para perempuan yang mendapat sentuhan KUR langsung dari Pegadaian untuk melanjutkan usaha kos-kosan dan usaha minuman milik mereka.

“Saya sudah tahun kedua terima KUR Pegadaian, untuk usaha kosan, sangat terbantu sekali,” ujar Erni Carolina dikediamannya Jl. Raya Mandala, Merauke.

Senada, Mariati Gebze mendapat sokongan KUR dari Pegadaian dan mendirikan sebuah kios berbahan seng untuk menjual minuman ringan.

“Saya dapat pinjaman dari Pegadaian, sa (saya) pake bikin tempat ini untuk jual minuman seribu dua ribu. Sa dapat Rp. 5 juta, bunga nya termasuk ringan sekali, daripada tong (kita) pinjam di koperasi harian, dong (mereka) tidak kas (beri) kita bernafas,” tutur Mariati Gebze di kios miliknya Jl. Gudang Arang, Merauke.

Manager Bisnis Pegadaian Cabang Merauke Arman menyebut, sejak KUR Pegadaian digulirkan di Merauke tercatat Rp. 1,5 Milyar KUR yang sudah disalurkan ke masyarakat.

“Jumlah ini, sejak KUR Pegadaian mulai digulirkan di tahun 2022 sampai dengan sekarang,” sebut Arman saat ditemui di Kantor Pegadaian Cabang Merauke, Senin (22/9). Hal ini, kata dia, sebagai wujud Pegadaian MengEmaskan Indonesia. [JUNAIDI ERON HAMONANGAN SIMBOLON]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *