Karantina Pertanian Pilih Kampung Makaling Jadi Desa Gratieks
Karantina Pertanian di Kampung Makaling Distrik Okaba melihat langsung sistem budidaya dan pengolahan pascapanen kelapa masyarakat disana.Foto: PSP/ERS
Merauke, PSP – Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Merauke memilih Kampung Makaling Distrik Okaba sebagai Desa Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks).
Dipilihnya kampung ini sebagai Desa Gratieks, dikarenakan Makaling dinilai memiliki potensi dalam pengembangan perkebunan kelapa terluas di Kabupaten Merauke.
Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Merauke, Sudirman,SP mengatakan, sebelumnya pihaknya yang merupakan Koordinator Gratieks Produk Pertanian di Merauke, telah melakukan pemetaan terhadap kawasan sentra produk pertanian yang memiliki potensi ekspor.
“Bersama dengan tim, kamu telag memetakan desa, salah satunya adalah mendatangi lokasi sentra perkebunan yang digadang-gadang dapat terpilih sebagai Desa Pendukung Gratieks. Dan Kampung Makaling sengaja kami pilih sebagai salah satu desa gratieks, karena pengembangan perkebunan kelapa di Merauke, terluas ada di kampung makaling distrik Okaba dan hasil olahannya berupa Kopra,” kata Sudirman dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/9).
Sudirman menyebutkan, luas lahan perkebunan kelapa di wilayah tersebut mencapai 100 Hektar dengan produksi kopra dapat mencapai 78 ton per bulan dari 3275 Hektar yang tersebar di sepanjang pesisir pantai Distrik Okaba.
“Kami sudah turun langsung ke lapangan dengan cara mengumpulkan petani perkebunan kelapa yang sudah membentuk Gapoktan, diskusi bersama dengan Penyuluh, Pemangku Adat setempat, melihat langsung sistem budidaya dan pengolahan pascapanen masyarakat kampung disana,”
Dikatakan dia, Karantina Pertanian elah mendaftarkan 3 Badan Penyuluh Pertanian (BPP) milik Dinas Pertanian ditingkat kecamatan, menjadi BPP model Kostratani.
“Dan itu terus kami lakukan pendampingan. Kami berharap dengan kunjungan awal ini, akan memberikan gambaran sejauh mana Karantina Merauke mengambil langkah dalam mengawal program Gratieks di Merauke. Terutama pengembangan industri hilirnya yakni pengolahan kelapa menjadi kopra yang bernilai tinggi,” tandasnya.
Sebab, kata Sudirman, untuk membuka kran ekspor terlebih dahulu harus bisa memastikan selain ketersedian bahan baku di hilir harus berkesinambungan, tapi juga kualiatas menjadi syarat utama agar nilai jual semakin tinggi dipasaran baik lokar maupun pasar ekspor. “Ini sebagai penguatan tugas pokok dan fungsi perkarantinaan diwilayah kerja kami, untuk melaksanan tugas strategisnya dalam mengawal program Konstratani dan Gratieks, yang digagas oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo guna memenuhi kebutuhan pangan asal produk pertanian sekaligus memacu ekspornya ke manca negara,” pungkas Sudirman. [ERS-NAL]
